Berkenalan dengan Pendanaan Model Revenue-Based Financing

Pada bulan Juni ini, Jenfi resmi launching di Indonesia. Bagi kamu yang belum tahu, Jenfi merupakan startup fintech dari Singapura yang memberikan pendanaan untuk bisnis UMKM. Pendanaan yang diberikan oleh Jenfi terbilang cukup unik karena berbeda dengan fintech lain di Indonesia. Kami memberikan pendanaan dengan sistem revenue-based financing atau juga dikenal dengan pendanaan berbasis pendapatan.

Singkatnya, pendanaan berbasis pendapatan merupakan jenis pendanaan yang fleksibel karena uang yang harus dikembalikan tidak flat setiap bulan. Nominal pengembalian akan tergantung dari revenue atau penghasilan bisnis kamu pada bulan tersebut. Hal ini jelas akan sangat menguntungkan untuk perusahaan atau bisnis yang mengincar growth dalam waktu singkat.

Pada artikel kali ini, kita akan membahas dengan lengkap seputar revenue-based financing, mulai dari pros dan cons, skenario menggunakan pendanaan ini, dan lainnya. Yuk baca artikel ini bersama-sama!

Pros dari Revenue-Based Financing

Seperti yang sudah kita ketahui bersama-sama, revenue-based financing merupakan jenis permodalan dengan pembayaran yang fleksibel. Jadi, pengembalian setiap bulan akan berubah tergantung dari pemasukan yang didapatkan. Jika pada bulan tertentu penjualan kamu sedang sedikit, maka pengembalian dana yang kamu berikan juga bisa lebih rendah. Sangat low-risk bukan?

Selain tingkat fleksibilitas yang tinggi, berikut ini adalah keuntungan lain dari sistem pendanaan ini:

Tidak Mengambil Porsi Kepemilikan Bisnis

Revenue-based financing sangat berbeda dengan equity financing yang menukarkan beberapa persen kepemilikan bisnis untuk mendapatkan suntikan modal. Pendanaan dengan revenue-based financing ini sama sekali tidak mengambil kepemilikan bisnis kamu. Jadi, semua keputusan bisnis penting tetap ada di tangan kamu.

Tidak Membutuhkan Jaminan

Beberapa bank biasanya menetapkan jaminan khusus berupa aset bisnis jika kamu sedang mengajukan pinjaman. Jaminan ini nanti akan dikembalikan ketika kamu sudah melunasi semua pinjaman yang diberikan.

Di sistem revenue-based financing, kamu tidak perlu menjadikan aset bisnis sebagai jaminan. Tidak ada jaminan yang perlu diberikan di sini. Jadi, tidak akan ada resiko yang akan didapatkan oleh aset bisnis kamu.

Proses Pencairan Dana yang Cepat

Sistem revenue-based financing biasanya menggunakan parameter atau scoring yang berbeda dengan bank konvensional untuk menilai kemampuan dari borrower atau peminjam. Proses scoring ini umumnya hanya membutuhkan waktu yang singkat agar dana bisa cair. Jadi, sistem ini sangat cocok bagi kamu yang ingin mengincar momentum singkat untuk growth dengan cepat.

Salah satu contoh revenue-based financing yang bisa kamu temukan di Indonesia adalah Jenfi. Dengan sistem penilaian yang juga sangat cepat, kamu bisa mendapatkan dana dari kami hanya dengan waktu yang kurang dari 24 jam saja.

Support Penuh dari Lender atau Peminjam

Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, pinjaman dengan model revenue-based financing sangat bergantung dengan revenue dari bisnis peminjam. Model pendanaan ini akan semakin menguntungkan lender atau peminjam jika pemasukan bisnis kamu juga semakin tinggi. Jadi, agar bisa mendapatkan keuntungan yang besar, biasanya lender akan terus mendukung penuh perkembangan bisnis kamu.

Biasanya, kamu akan diberikan tools atau software khusus agar bisnis kamu bisa semakin menghasilkan. Banyak juga fintech revenue-based financing yang menyediakan jasa konsultasi kepada para peminjam untuk lebih meningkatkan pemasukan.

Cons dari Revenue-Based Financing

Sistem dengan pinjaman revenue-based financing memang memiliki banyak keunggulan. Akan tetapi ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kamu yang ingin mengajukan pendanaan dengan sistem revenue-based financing:

Dana yang Disediakan Tidak Terlalu Besar

Salah satu kelemahan dari revenue-based financing adalah dana yang disediakan tidak unlimited atau memiliki batas maksimum. Di Jenfi sendiri, dana maksimum yang bisa didapatkan adalah sebesar 1 miliar.

Pembayaran Setiap Bulan

Sama seperti dengan debt financing, kamu perlu melakukan pembayaran ke lender setiap bulan. Jadi, akan ada pengeluaran yang juga perlu kamu perhitungkan di sini ketika mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing.

Kapan Kita Bisa Mengajukan Pinjaman Model Revenue-Based Financing

Pinjaman revenue-based financing umumnya sering digunakan oleh UMKM yang sedang growth dan ingin mencuri momentum pada event tertentu. Berikut ini adalah beberapa skenario yang biasa digunakan oleh beberapa bisnis ketika ingin mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing:

Skenario 1

Bulan November sebentar lagi dan akan ada promo besar-besaran pada bulan tersebut! Kamu membutuhkan 1 miliar rupiah untuk peralatan, marketing, media sosial, dan lain-lain untuk memaksimalkan momentum nanti dan menjual produk sebanyak-banyaknya. Jadi, kamu memutuskan untuk meminjam dengan model revenue-based financing karena waktu pencairan yang cepat.

Pada bulan November, investasi kamu berhasil dan penjualan meningkat tajam. Tapi setelah itu, pada bulan berikutnya, semua kembali seperti semula. Jika 1 miliar itu kamu dapatkan lewat pinjaman konvensional dari bank (debt financing), maka kamu akan tetap bayar cicilan yang tinggi setelah lewat bulan November.

Dengan pendanaan revenue-based financing, nominal cicilan akan berkurang sesuai dengan pemasukan bisnis kamu. Jadi, kamu bisa mengambil momentum tertentu untuk growth tanpa harus khawatir membayar cicilan yang tinggi setelahnya.

Skenario 2

Penjualan kamu sedang turun pada bulan ini dan kamu sudah menurunkan alokasi budget. Tapi, keesokan harinya, di pagi hari, kamu bangun dan menemukan bahwa traffic website naik tajam.

Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata salah satu produk yang kamu jual dipakai oleh influencer media sosial ternama. Sebagai seorang pebisnis yang handal, kamu jelas tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Kamu langsung mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing.

Kamu langsung melakukan promosi dan campaign lewat Google, Instagram, Tik Tok, dan Facebook untuk menarik pembeli serta melakukan order yang tinggi ke supplier agar stok tidak habis dan mengantisipasi volume penjualan yang tinggi. Dengan model pendanaan revenue-based financing, kamu bisa lebih yakin untuk investasi karena jika nanti penjualan turun, kamu tetap tidak merasa berat ketika bayar cicilan.

Apakah Revenue-Based Financing Cocok untuk Saya?

Model pendanaan revenue-based financing merupakan alternatif baru dan cocok bagi bisnis kamu yang sudah memiliki revenue. Selain itu, model ini juga cocok untuk UMKM yang stabil dan sedang mengincar pertumbuhan dalam jangka waktu lama ataupun mengincar momentum tertentu.

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan jika mengajukan pendanaan dengan model ini seperti fleksibilitas, tidak adanya pengambilan kepemilikan, dan juga tidak perlu jaminan aset. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk ajukan pendanaan kamu di Jenfi sekarang!

Seberapa cepat bisnismu bertumbuh dengan pendanaan khusus

Scroll to top