fbpx
Open post

Di era sekarang ini, dana dan modal untuk bisnis bisa kita dapatkan dari berbagai sumber. Tidak hanya dari pinjaman bank saja seperti bertahun-tahun yang lalu (bank loan), sekarang sudah banyak fintech yang siap mendanai bisnis kamu.

Dua jenis fintech yang biasa dijadikan tempat untuk meminjam dana oleh bisnis yang sedang tumbuh adalah crowdfunding dan juga peer-to-peer lending. Dari namanya, seperti tidak ada perbedaan antara kedua jenis fintech ini. Secara keseluruhan, memang kedua fintech ini memiliki dasar yang sama, yakni mendapatkan pinjaman dana dari sekumpulan orang yang melakukan investasi. Lalu, apa bedanya?

Jika kita melihat lebih detail lagi, ada perbedaan yang besar antara crowdfunding dan peer-to-peer lending (P2P lending). Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Apa saja perbedaannya? Bagaimana konsep pendanaan dari crowdfunding dan p2p lending? Semuanya akan kita bahas bersama-sama dalam artikel ini:

Crowdfunding

Crowdfunding adalah pendanaan yang diberikan oleh sekelompok orang atau investor yang biasanya dilakukan pada tahap awal sebuah bisnis. Berdasarkan statistik, di Indonesia sendiri, pendanaan dengan sistem crowdfunding sudah menyentuh angka 5,9 juta USD di tahun 2022. Jumlah ini akan terus meningkat dan berdasarkan prediksi akan menyentuh angka 6.7 juta USD di tahun 2027.

Proses pendanaan dari crowdfunding sudah bisa dilakukan secara online. Jadi, ketika kamu memiliki projek atau ide bisnis menarik, maka kamu harus membuat proposal dan mempresentasikannya kepada para calon pemberi dana. Jika ide bisnis atau projek kamu menarik, maka mereka akan dengan senang hati meminjamkan sejumlah dana.

Karena crowdfunding ini biasanya dilakukan di tahap awal bisnis, tidak ada syarat untuk mengembalikan dana pinjaman tersebut. Jadi, dalam bentuk apa imbalannya? Bagaimana cara mengembalikannya? Berikut ini adalah tiga (3) sistem pendanaan yang biasa dilakukan di crowdfunding dan imbalan dari masing-masing sistem tersebut:

  • Donation-based crowdfunding atau sistem donasi: Pada sistem ini, pemodal akan dengan sukarela memberikan donasi untuk bisnis atau projek kamu. Tidak ada kewajiban dari kamu sebagai pemilik bisnis untuk mengembalikan dana tersebut.
  • Reward-based crowdfunding atau sistem hadiah: Di sistem ini, pemodal akan mendapatkan hadiah atau reward ketika bisnis atau projek kamu sudah berhasil mengeluarkan produk. Hadiah di sini biasanya berupa diskon yang tinggi, early access, merchandise, atau produk dengan label khusus untuk para pemodal.
  • Equity-based crowdfunding: Sesuai dengan namanya, pada sistem ini, pemodal akan mendapatkan beberapa persen kepemilikan saham sesuai dengan besarnya pendanaan yang diberikan.

Peer-To-Peer Lending (P2P Lending)

Peer-to-peer lending (P2P Lending) memiliki sistem hampir sama dengan crowdfunding yang menggalang dana dari banyak orang. Perbedaan utamanya di sini adalah, dalam sistem peer-to-peer lending, imbalan yang diberikan berupa beberapa persen bunga dari nominal yang dipinjam, sama seperti sistem debt financing. 

Pendanaan dengan sistem P2P Lending ini biasanya diajukan oleh perusahaan yang sudah memiliki nama. Mereka memiliki projek yang besar sampai jangka waktu tertentu dan membutuhkan dana untuk menjalankan projek tersebut. Untuk mendapatkan dana ini, mereka akan menghubungi fintech P2P Lending, mengajukan dana yang ingin dipinjam, dan memberikan persentase bunga yang nanti akan dijadikan imbalan. Jika bunga imbalan yang perusahaan tawarkan tinggi maka akan banyak orang yang meminjamkan dana untuk projek atau perusahaan tersebut.

Di Indonesia sendiri, P2P Lending berkembang dengan sangat pesat. Berdasarkan statistik, pada tahun 2018, pendanaan dengan metode P2P Lending mencapai angka 5.04 triliun rupiah. Jumlah ini meningkat sangat tajam pada tahun 2022 yang sudah tembus 40.17 triliun!

Perbedaan P2P Lending dan Crowdfunding

Dari penjelasan di atas, kita semua kira-kira sudah bisa mengetahui perbedaan antara crowdfunding dan juga peer-to-peer lending. Selain kedua ini, sebenarnya masih ada lagi jenis pinjaman yang lain. Berikut ini akan kami breakdown secara lebih detail perbedaan dari dua jenis pendanaan ini:

  • Konsep pinjaman

Sistem pendanaan P2P Lending memiliki konsep pinjaman. Jadi, dalam sistem ini, peminjam wajib mengembalikan dana dan ditambah dengan bunga yang sudah disepakati. Sementara itu pada sistem pendanaan crowdfunding, memiliki konsep donasi. Jadi, peminjam tidak diwajibkan untuk mengembalikan dana.

  • Target dan level bisnis

Pendanaan crowdfunding biasanya diajukan oleh bisnis atau projek yang masih baru dibentuk (early stage) sementara pendanaan P2P lending diajukan oleh perusahaan yang established. 

  • Imbalan

Imbalan dari sistem pinjaman P2P Lending hanya berupa bunga saja, sama seperti debt financing pada umumnya. Sementara itu, sistem pinjaman dari crowdfunding biasanya meminta imbalan yang bervariasi, equity, diskon, merchandise, early access, sampai produk khusus untuk para pemodal.

  • Lama waktu peminjaman

Sistem pinjaman P2P Lending biasanya memiliki tenor yang ketat. Umumnya, jangka waktu peminjaman di sini mulai dari 3 bulan sampai 1 tahun. Peminjam akan mendapatkan denda jika belum mengembalikan dana sampai tanggal tenor.

Untuk crowdfunding, tenor yang dimiliki bisa lebih fleksibel karena menunggu projek tersebut selesai atau ada produk yang dihasilkan. Jangka waktunya bisa lebih lama dari P2P lending karena bisa lebih dari 1 tahun.

Tips Mengurangi Resiko Jika Menjadi Pemodal P2P Lending dan Crowdfunding

Sudah banyak platform P2P lending dan juga crowdfunding yang bisa kita temukan di internet. Di platform ini, kita juga bisa berpartisipasi memberikan dana dan menjadi pemodal untuk ide serta bisnis yang menarik tanpa perlu dana yang besar. Dengan return yang tinggi biasanya orang banyak tertarik untuk mulai memberikan dana atau modal ke bisnis-bisnis tersebut.

Bagi kamu yang juga tertarik untuk menjadi pemodal, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan terlebih dahulu. Sebaiknya, kamu tidak terlalu terpaku hanya pada imbalan saja. Berikut ini adalah yang harus kamu perhatikan sebelum mulai memberikan pendanaan, baik itu untuk P2P Lending dan juga Crowdfunding:

Perhatikan profil dan riwayat peminjam atau perusahaan

Hal paling utama yang perlu kamu perhatikan sebelum memberikan pendanaan adalah profil dari peminjam tersebut. Untuk P2P Lending, perhatikan riwayat dari perusahaan yang mengajukan pinjaman. Berapa kali sudah pernah meminjam? Apakah pernah gagal bayar atau terlambat bayar? Apa jaminannya? Semua jawaban dari pertanyaan ini harus bisa meyakinkan kamu.

Untuk crowdfunding, juga berlaku hal yang sama. Siapa peminjamnya? Apakah peminjam benar-benar serius dalam mengerjakan projek yang mereka ajukan? Apakah peminjam sebelumnya sudah pernah menjalankan projek serupa? 

Perhatikan projek bisnis dan produk yang sedang mereka kerjakan

Setelah kamu yakin dengan profil dari peminjam, maka langkah berikutnya adalah perhatikan projek bisnis yang akan mereka lakukan. Dana yang sudah kita gunakan harus mereka manfaatkan untuk projek yang menarik atau membuat produk yang bagus jika ada di sistem crowdfunding.

Hal yang sama berlaku jika ingin memberikan dana di sistem P2P Lending. Jangan sampai dana yang kita pinjamkan untuk kegiatan yang tidak efektif seperti pembayaran hutang, dan lain-lain.

Sistem P2P Lending atau Crowdfunding untuk Bisnis Saya?

Bagi kamu yang masih tahap awal dalam dunia bisnis atau bahkan memiliki ide projek yang menarik, pinjaman metode crowdfunding sangat cocok untuk kamu. Akan sangat mudah untuk mendapatkan dana dari investor jika mereka menyambut positif projek atau produk yang sedang kamu kerjakan.

Bagi kamu yang sudah memiliki bisnis cukup besar dengan cash flow positif, maka sistem pendanaan P2P lending merupakan yang terbaik. Sistem ini tidak akan menguras kepemilikan dari bisnis kamu. Jika bunga imbalan yang kamu tawarkan besar, maka akan ada banyak orang yang siap mendanai bisnis kamu.

Jika kamu menginginkan pendanaan dengan sistem yang fleksibel, maka kamu bisa mengajukan di Jenfi. Kami merupakan pendanaan yang memiliki sistem revenue based financing pertama di Asia.

Open post

Modal merupakan salah satu elemen utama dalam dunia bisnis. Jika kamu memiliki bisnis yang sudah stabil dengan cash flow yang selalu positif, mendapatkan pinjaman modal bisa sangat mudah. Bank pasti akan dengan senang hati meminjamkan uang untuk kamu.

Tapi, bagaimana jika kamu baru merintis bisnis startup? Dengan cash flow yang negatif dan (biasanya) masih belum ada pemasukan, apakah bank juga akan dengan sukarela meminjamkan modal atau dana? Biasanya untuk kasus ini akan sangat sulit.

Jadi, dari mana startup ini bisa mendapatkan dana? Jawabannya bisa dari venture capital, dari angel investor, dan juga beberapa startup fintech seperti Jenfi yang menerapkan sistem revenue based financing. Mereka-mereka ini akan dengan senang hati memberikan pinjaman modal dan dana kepada startup yang sedang growth dan memiliki prospek bagus di masa depan.

Tahukah kamu apa perbedaan dari angel investor dan juga venture capital? Semuanya akan kita bahas bersama di sini!

Angel Investor

Angel investor merupakan seorang individu yang memiliki harta yang banyak yang mau memberikan modal ke suatu startup. Saat memberikan modal, mereka akan meminta beberapa persen kepemilikan saham dari startup tersebut (equity).

Angel sendiri memiliki arti “malaikat” dan sama seperti namanya, angel investor ini berarti seorang investor malaikat. Mereka biasanya akan dengan sukarela membantu startup yang baru didirikan dan masih belum memiliki pasar. Jadi, investasi mereka di startup ini bisa dikatakan memiliki resiko yang tinggi.

Angel investor ini biasanya adalah orang terdekat, kerabat, sahabat, atau juga saudara dari pemilik startup. Tidak jarang juga angel investor merupakan kumpulan orang-orang kaya yang sedang mencari startup potensial. Kita sebagai pemilik startup harus pitching terlebih dahulu agar mereka tertarik untuk investasi di tempat kita (sama seperti series “Shark Tank”). Karena dana dari angel investor ini merupakan dana pribadi, biasanya jumlahnya tidak terlalu besar.

Venture Capital

Venture capital merupakan perusahaan finansial yang memberikan dana kepada startup dan menjadi investor. Perusahaan ini juga mengincar kepemilikan saham dari startup yang mereka investasikan.

Karena venture capital ini merupakan perusahaan investasi, keputusan mereka dalam memberikan pendanaan untuk startup tidak lebih fleksibel daripada angel investor. Mereka akan memberikan pendanaan atau modal ke startup yang sudah memiliki pasar atau produk yang jelas. Di banyak kasus, biasanya venture capital akan mulai masuk setelah ada proses pendanaan dari angel investor.

Venture capital sendiri biasanya akan memberikan pendanaan lebih dari satu kali untuk startup yang mereka nilai memiliki potensi tinggi. Biasanya, mereka akan memberikan dana pada tahap-tahap tertentu. 

Perbedaan Angel Investor dan Venture Capital

Perbedaan Venture Capital dan Angel Investor

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kita semua pasti sudah bisa membayangkan beberapa perbedaan utama antara angel investor dan juga venture capital. Berikut ini akan kami breakdown semua perbedaan dari kedua sumber dana ini:

  • Pemberi Dana

Pemberi dana dari angel investor merupakan perorangan yang menggunakan harta pribadi mereka sendiri sementara venture capital merupakan perusahaan investasi yang memberikan dana ke startup lewat dana perusahaan mereka.

  • Fleksibilitas

Karena yang memberikan dana di angel investor adalah perorangan, jadi mereka bisa lebih fleksibel dalam memilih jenis startup untuk didanai, baik itu startup yang sudah berkembang atau startup yang bahkan baru dibentuk. Sementara itu, venture capital akan lebih strict dalam memilih startup yang menjadi target pendanaan. Biasanya, startup yang jadi target venture capital setidaknya sudah memiliki pasar tersendiri, memiliki produk, dan prospek masa depan yang sangat cerah.

  • Proses Pemberian Pendanaan

Umumnya, ada lima (5) jenis tahapan dalam pemberian modal dan pendanaan untuk startup dan tahapan tersebut adalah:

  • Seed capital
  • Startup capital
  • Early stage capital
  • Expansion capital
  • Late stage capital

Biasanya angel investor hanya memberikan pendanaan sebanyak satu (1) kali saja di awal (seed capital). Baru setelah itu, masuk venture capital yang biasanya memberikan pendanaan yang bisa lebih dari 1 kali pada setiap stage. 

  • Jumlah Modal atau Dana

Dana dari angel investor merupakan dana pribadi dari seorang investor sehingga jumlahnya pasti akan terbatas jika ingin dipinjamkan ke startup. Oleh karena itu, dana dari venture capital yang mengalir ke startup biasanya akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angel capital.

  • Imbalan dari Investasi

Baik itu angel investor maupun venture capital sama-sama menginginkan equity dari startup yang mereka investasikan. Perbedaan dari keduanya di sini adalah, biasanya angel investor hanya menginginkan saham atau equity dari startup tersebut saja sementara venture capital biasanya menginginkan beberapa posisi eksekutif sebagai pengambil keputusan bisnis startup tersebut.

  • Resiko

Resiko yang dimiliki oleh angel investor biasanya jauh lebih tinggi karena mereka berinvestasi ke startup yang bahkan baru terbentuk dan belum memiliki produk apapun. Sementara itu, venture capital yang berinvestasi ke startup yang sudah jelas biasanya memiliki resiko yang rendah.

Mana yang Terbaik?

Dari semua perbedaan yang ada di atas, kita bisa pahami bahwa kedua jenis pendanaan ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Semua startup pasti membutuhkan dua 2 jenis pendanaan ini (angel investor dan venture capital).

Biasanya, jika kamu memiliki ide menarik untuk sebuah produk dan membutuhkan dana untuk modal, maka kamu membutuhkan angel investor di tahap ini. Namun, seiring bertambahnya waktu dan startup kamu sudah menjadi perusahaan yang terus berkembang maka venture capital merupakan orang yang harus kamu cari jika membutuhkan pendanaan. Venture capital inilah yang akan memberikan dana yang jauh lebih tinggi agar startup kamu bisa lebih growth lagi!

Open post

Pada bulan Juni ini, Jenfi resmi launching di Indonesia. Bagi Anda yang belum tahu, Jenfi merupakan startup fintech dari Singapura yang memberikan pendanaan untuk bisnis UMKM. Pendanaan yang diberikan oleh Jenfi terbilang cukup unik karena berbeda dengan fintech lain di Indonesia. Kami memberikan pendanaan dengan sistem revenue-based financing atau juga dikenal dengan pendanaan berbasis pendapatan.

Singkatnya, pendanaan bagi hasil merupakan jenis pendanaan yang fleksibel karena uang yang harus dikembalikan tidak flat setiap bulan. Nominal pengembalian akan tergantung dari revenue atau penghasilan bisnis kamu pada bulan tersebut. Hal ini jelas akan sangat menguntungkan untuk perusahaan atau bisnis yang mengincar growth dalam waktu singkat.

Pada artikel kali ini, kita akan membahas dengan lengkap seputar revenue-based financing, mulai dari pros dan cons, skenario menggunakan revenue-based financing, dan lainnya. Yuk baca artikel ini bersama-sama!

Pros dari Revenue-Based Financing

Seperti yang sudah kita ketahui bersama-sama, revenue-based financing merupakan jenis permodalan dengan pembayaran yang fleksibel. Jadi, pengembalian setiap bulan akan berubah tergantung dari pemasukan yang didapatkan. Jika pada bulan tertentu penjualan kamu sedang sedikit, maka pengembalian dana yang kamu berikan juga bisa lebih rendah. Sangat low-risk bukan?

Selain tingkat fleksibilitas yang tinggi, berikut ini adalah keuntungan lain dari sistem pendanaan revenue-based financing:

Tidak Mengambil Porsi Kepemilikan Bisnis

Revenue-based financing sangat berbeda dengan equity financing yang menukarkan beberapa persen kepemilikan bisnis untuk mendapatkan suntikan modal. Pendanaan dengan revenue-based financing ini sama sekali tidak mengambil kepemilikan bisnis kamu. Jadi, semua keputusan bisnis penting tetap ada di tangan kamu.

Tidak Membutuhkan Jaminan

Beberapa bank biasanya menetapkan jaminan khusus berupa aset bisnis jika kamu sedang mengajukan pinjaman. Jaminan ini nanti akan dikembalikan ketika kamu sudah melunasi semua pinjaman yang diberikan.

Di sistem revenue-based financing, kamu tidak perlu menjadikan aset bisnis sebagai jaminan. Tidak ada jaminan yang perlu diberikan di sini. Jadi, tidak akan ada resiko yang akan didapatkan oleh aset bisnis kamu.

Proses Pencairan Dana yang Cepat

Sistem revenue-based financing biasanya menggunakan parameter atau scoring yang berbeda dengan bank konvensional untuk menilai kemampuan dari borrower atau peminjam. Proses scoring ini umumnya hanya membutuhkan waktu yang singkat agar dana bisa cair. Jadi, sistem ini sangat cocok bagi kamu yang ingin mengincar momentum singkat untuk growth dengan cepat.

Salah satu contoh revenue-based financing yang bisa kamu temukan di Indonesia adalah Jenfi. Dengan sistem penilaian yang juga sangat cepat, kamu bisa mendapatkan dana dari kami hanya dengan waktu yang kurang dari 24 jam saja.

Support Penuh dari Lender atau Peminjam

Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, pinjaman dengan model revenue-based financing sangat bergantung dengan revenue dari bisnis peminjam. Model pendanaan ini akan semakin menguntungkan lender atau peminjam jika pemasukan bisnis kamu juga semakin tinggi. Jadi, agar bisa mendapatkan keuntungan yang besar, biasanya lender akan terus mendukung penuh perkembangan bisnis kamu.

Biasanya, kamu akan diberikan tools atau software khusus agar bisnis kamu bisa semakin menghasilkan. Banyak juga fintech revenue-based financing yang menyediakan jasa konsultasi kepada para peminjam untuk lebih meningkatkan pemasukan.

Cons dari Revenue-Based Financing

Sistem dengan pinjaman revenue-based financing memang memiliki banyak keunggulan. Akan tetapi ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kamu yang ingin mengajukan pendanaan dengan sistem revenue-based financing:

Dana yang Disediakan Tidak Terlalu Besar

Salah satu kelemahan dari revenue-based financing adalah dana yang disediakan tidak unlimited atau memiliki batas maksimum. Di Jenfi sendiri, dana maksimum yang bisa didapatkan adalah sebesar 1 miliar.

Pembayaran Setiap Bulan

Sama seperti dengan debt financing, kamu perlu melakukan pembayaran ke lender setiap bulan. Jadi, akan ada pengeluaran yang juga perlu kamu perhitungkan di sini ketika mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing.

Kapan Kita Bisa Mengajukan Pinjaman Model Revenue-Based Financing

Pinjaman revenue-based financing umumnya sering digunakan oleh UMKM yang sedang growth dan ingin mencuri momentum pada event tertentu. Berikut ini adalah beberapa skenario yang biasa digunakan oleh beberapa bisnis ketika ingin mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing:

Skenario 1

Bulan November sebentar lagi dan akan ada promo besar-besaran pada bulan tersebut! Kamu membutuhkan 1 miliar rupiah untuk peralatan, marketing, media sosial, dan lain-lain untuk memaksimalkan momentum nanti dan menjual produk sebanyak-banyaknya. Jadi, kamu memutuskan untuk meminjam dengan model revenue-based financing karena waktu pencairan yang cepat.

Pada bulan November, investasi kamu berhasil dan penjualan meningkat tajam. Tapi setelah itu, pada bulan berikutnya, semua kembali seperti semula. Jika 1 miliar itu kamu dapatkan lewat pinjaman konvensional dari bank (debt financing), maka kamu akan tetap bayar cicilan yang tinggi setelah lewat bulan November.

Dengan pendanaan revenue-based financing, nominal cicilan akan berkurang sesuai dengan pemasukan bisnis kamu. Jadi, kamu bisa mengambil momentum tertentu untuk growth tanpa harus khawatir membayar cicilan yang tinggi setelahnya.

Skenario 2

Penjualan kamu sedang turun pada bulan ini dan kamu sudah menurunkan alokasi budget. Tapi, keesokan harinya, di pagi hari, kamu bangun dan menemukan bahwa traffic website naik tajam.

Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata salah satu produk yang kamu jual dipakai oleh influencer media sosial ternama. Sebagai seorang pebisnis yang handal, kamu jelas tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Kamu langsung mengajukan pinjaman dengan model revenue-based financing.

Kamu langsung melakukan promosi dan campaign lewat Google, Instagram, Tik Tok, dan Facebook untuk menarik pembeli serta melakukan order yang tinggi ke supplier agar stok tidak habis dan mengantisipasi volume penjualan yang tinggi. Dengan model pendanaan revenue-based financing, kamu bisa lebih yakin untuk investasi karena jika nanti penjualan turun, kamu tetap tidak merasa berat ketika bayar cicilan.

Apakah Revenue-Based Financing Cocok untuk Saya?

Model pendanaan revenue-based financing merupakan alternatif baru dan cocok bagi bisnis kamu yang sudah memiliki revenue. Selain itu, model ini juga cocok untuk UMKM yang stabil dan sedang mengincar pertumbuhan dalam jangka waktu lama ataupun mengincar momentum tertentu.

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan jika mengajukan pendanaan dengan model ini seperti fleksibilitas, tidak adanya pengambilan kepemilikan, dan juga tidak perlu jaminan aset. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk ajukan pendanaan kamu di Jenfi sekarang!

Baru Mulai Bisnis? Kenali Jenis-Jenis Pinjaman dalam Dunia Bisnis

Open post

Di era pandemi seperti sekarang ini, mulai banyak orang yang memulai bisnis. Membuka kafe untuk ngopi, bisnis franchise, sampai jualan produk online merupakan pilihan yang paling sering diambil.

Untuk orang beruntung yang sudah memiliki modal yang besar, memulai bisnis seperti ini tidaklah sulit. Tapi, bagaimana untuk orang yang tidak punya modal? Mencari pinjaman adalah salah satu solusinya.

Kita tidak boleh sembarangan ketika mencari pinjaman. Hal pertama yang harus kita ketahui adalah jenis pinjaman yang ingin kita ambil beserta besar bunganya. Setelah semuanya oke, baru kita pelajari syarat dan ketentuannya. Pada artikel ini, kita akan membahas seputar jenis pinjaman tersebut, plus dan minusnya, dan apakah pinjaman ini cocok untuk kamu.

Debt Financing

Sistem pinjaman modal usaha debt financing sering juga kita kenal dengan istilah hutang. Sistem pinjaman seperti ini sangat umum kita temukan dan mungkin kita pernah menggunakannya. Dulu, hanya bank yang bisa memberikan pinjaman secara legal, tapi sekarang, sudah ada banyak fintech yang menawarkan jasa peminjaman atau permodalan seperti ini juga.

Proses pengembalian dana pada sistem hutang seperti ini biasanya dilakukan setiap bulan. Nominal beserta bunga yang harus dibayar akan tetap setiap bulannya (flat).

Plus dari hutang atau debt financing:

  • Karena biaya per bulan yang harus dibayar tetap, maka pengeluaran bisa direncanakan terlebih dahulu.
  • Tidak mengambil porsi saham dari bisnis kamu.
  • Bunga yang ditawarkan rendah.

Minus dari hutang atau debt financing:

  • Proses pencairan dana cukup ketat dan tergantung dari credit rating bisnis kamu.
  • Biasanya membutuhkan jaminan dari pemilik bisnis.
  • Gagal dalam pembayaran bisa berakibat ke hilangnya aset bisnis kamu.

Equity Financing

Sistem pinjaman equity financing adalah sistem pinjaman dengan menukarkan porsi saham dari bisnis kamu dengan modal atau dana dari pihak peminjam atau investor. Pada sistem ini, kamu sebagai pihak yang meminjam tidak diwajibkan untuk membayar kembali modal yang sudah dipinjamkan. Sebagai gantinya, pihak yang meminjamkan dana akan memiliki sebagian saham dari bisnis kamu dan memiliki suara dalam pengambilan keputusan untuk perkembangan bisnis kamu.

Sistem equity financing seperti ini sangat umum ditemui di startup yang baru merintis. Biasanya, startup tidak akan bisa mencatatkan keuntungan setiap bulan saat baru didirikan dan akan kesulitan jika meminjam uang dari bank yang secara ketat melihat arus dana. Karena alasan inilah, para perintis startup ini memilih pinjaman dengan sistem equity financing.

Plus dari sistem equity financing:

  • Peminjam tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikan dana atau modal yang sudah dipinjamkan.
  • Tidak memberikan beban finansial ke bisnis yang sedang dibangun.
  • Tetap berpeluang untuk mendapatkan pinjaman meskipun bisnis kamu masih belum mendapatkan keuntungan setiap bulannya.

Minus dari sistem equity financing:

  • Kamu tidak lagi memiliki kontrol penuh terhadap bisnis yang sedang dibangun karena ada pihak lain yang juga memiliki saham bisnis kamu.
  • Jika bisnis mencatatkan keuntungan, maka keuntungan ini juga harus dibagikan ke para pemegang saham.
  • Untuk memiliki perusahaan secara penuh, kamu harus membeli lagi saham yang dimiliki oleh pihak yang meminjamkan dana. Biasanya biaya untuk pembelian kembali saham ini akan lebih tinggi daripada saat sebelum meminjam.

Revenue-Based Financing

Sistem pinjaman revenue-based financing sering juga disebut dengan istilah pinjaman bagi hasil atau bagi keuntungan. Pada sistem pinjaman seperti ini, bunga yang harus kamu bayar per bulan tidak tetap setiap bulannya seperti di debt financing, melainkan tergantung dari performa penjualan (revenue) atau bisnis kamu pada bulan tersebut. Bunga yang dibayar akan berbeda jika kamu untung 1 juta dan juga untung 5 juta. Jadi, semuanya lebih fleksibel dalam sistem ini.

Plus pinjaman bagi hasil atau revenue based financing:

  • Pembayaran bulanan lebih fleksibel.
  • Bunga yang diberikan biasanya lebih rendah dan cocok untuk kamu yang bisnis kecil atau UMKM.
  • Tidak mengambil kepemilikan (tidak meminta saham dari bisnis atau perusahaan kamu).

Minus pinjaman bagi hasil atau revenue based financing:

  • Proses seleksi untuk mendapatkan pinjaman biasanya lebih ketat karena tidak sembarangan bisnis yang bisa didanai.
  • Nominal dana yang ditawarkan biasanya tidak sebesar investor pada equity financing.

Sampai saat ini, di Indonesia, hanya ada satu platform yang mengakomodir jenis pinjaman bagi hasil, yakni di Jenfi. Kami adalah fintech pinjaman online bunga rendah dengan proses pencairan yang cepat dan mudah. Selama kamu memenuhi syarat, maka aplikasi kamu pasti akan diterima.

Apa Jenis Pinjaman yang Cocok untuk Saya?

Jika sudah mengetahui tiga jenis financing di atas, maka kamu bisa lebih berhati-hati dalam mengajukan pinjaman. Jika bisnis yang baru kamu mulai masih memiliki keuntungan yang rendah, tidak ada salahnya mencoba revenue-based financing atau bagi hasil seperti di Jenfi (cara daftar di Jenfi). 

Kalau bisnis kamu sudah sangat besar dan memiliki keuntungan yang tinggi setiap bulannya, maka tidak ada salahnya mengajukan debt financing atau hutang. Kemungkinan besar nominal bunga yang harus dibayarkan akan lebih kecil daripada dengan sistem bagi hasil.

Jika kamu ingin membangun startup dan tidak yakin akan mendapatkan keuntungan dalam 3-10 tahun kedepan, maka jenis pinjaman equity financing sangat cocok untuk kamu!

Seberapa cepat bisnismu bertumbuh dengan pendanaan khusus

Scroll to top